Jumat, 19 April 2024

Tentangmu yang Membuatku Seolah Sembuh


Bagian 1

Aku masih ingat,
kedatanganmu yang tiba-tiba
nyatanya mampu membuatku merona dan beranjak dari merana.
 
Mata yang membuatku terpanah,
pun tawa yang membuatku hanyut dan ingin tenggelam.
Menjelma kenangan yang bersembunyi dirongga-rongga ingatan.
Menggodaku  untuk malu-malu berharap.
 
Kau, lelaki yang kubagi sepotong waktuku di pojok kedai itu.
Bolehkah aku menjadi sunyi yang paling bising dikepalamu?
 
Ada detak yang tak rela sebab derap langkahmu semakin lirih,
Sedang harapku telah meninggi.
 
Kau paham bukan?
Angan seringkali membawa kita pada ingin yang teramat.
 
Tapi aku tidak bisa menyimpanmu dalam hati,
Pamali, nanti Tuhan marahi.
Tapi bolehkah kau kusimpan dalam puisi?
Dunia perlu tahu,
Ternyata hatiku tak semati itu.

***************************************
Bagian Dua

Aku ingin berjudi dengan segala kesempatan yang kumiliki
Mempertaruhkan seluruhnya untuk mendapatkanmu.
 
Aku tak punya pilihan lain
selain memberikan seluruhku tanpa kehilangan diriku.
 
Tak berhenti disitu.
Aku pun melakukan ritual merapalkan mantra dikeheningan malam.
Untuk menjaga seluruhmu.
 
Tak akan kubiarkan kau merasa kosong,
Kehadiranku akan menjadi isi
Yang selalu mencukupi dirimu.
 
Aku akan patuh pada tuturmu yang teduh
Takluk pada kasihmu yang menyerbu
Tunduk pada egomu yang rapuh.
 
Aku akan menjadi teduh lagi meneduhkan
Hanya untuk matamu yang menatap.
 
Apakah kau mau menlanjutkan cerita denganku?
Aku akan menjadi rentetan kata yang puitis
Untuk membuatmu penuh makna
 
Aku ingin kau menikmatiku dengan sempurna.
Hingga menjadikanku rotasi kebahagiaanmu.
 
Bagaimana menurutmu?

****************************************
Bagian Tiga

Berlayarlah, biarkan angin membawamu menemukan jawabannya.
Kau akan baik-baik saja.
Kapalmu tak akan karam.
 
Percayalah.
Sebab yang aku lihat, kau nahkoda yang begitu hebat,
Begitu piawai mengendalikan kemudi.
Serta paham kemana kau akan pergi.
 
Dari mana aku tahu?
Matamu menjelaskan seluruhnya.
Binar mata yang begitu nyala terang
Tapi memiliki sorot mata yang begitu teduh.
 
Nanti, ketika laut begitu riuh membuat kapalmu terombang-ambing.
Berlabuhlah.
Aku akan menjadi dermaga untukmu
Pun menjadi rasi bintang agar kau bisa membaca arah
dan kembali melanjutkan perjalanan.
 
Kau tahu kan?
Aku pandai menunggu jika itu perihal kamu
dan pada akhirnya aku menjadi dermaga terakhirmu.

Kota Lama Selepas Hujan

 

Jalanan yang masih basah selepas hujan malam itu, aku duduk seorang diri menunggu kau hampiri. Di bawah lampu jalanan yang temaram dan diantara bangunan tua yang kokoh berdiri, kamu melangkahkan kaki menujuku.

Kebisingan yang ada disekeliling mendadak redam, yang terdengar hanya derap langkah kakimu yang semakin mendekat membuat detak jantungku berdegup begitu kencang. Aku berusaha keras menyembunyikannya, takut kau bisa mendengar.

Tepat dihadapanku, mata kita beradu lalu kau tersenyum menyambutku. Sial, ternyata kau memiliki senyum yang begitu magis. Aku yang datang dengan hati yang apatis mendadak luluh menjadi begitu pemalu dihadapanmu. Aku kembali merutuki diri, mempertanyakan diri “bukankah hatimu hampir mati, lalu kenapa pipimu merona hanya dengan senyuman yang ia layangkan? Payah sekali.”

Malam itu, kau berkata terjebak dalam rutinitas orang dewasa. Hari-hari kau hanya bergelut di tempat kerja, kosan lalu lapangan sepakbola. Kau mengadu tidak mengenal banyak tempat di sini meski sudah menetap tiga tahun lamanya.

Lalu aku menawarimu pergi ke kedai kopi yang selalu kukunjungi di ujung gang itu. kau pun setuju. Di kedai kopi itu, suasana mirip pasar begitu rame. Kursi-kursi sudah terisi, bahkan musik yang diputar kalah berisik dengan suara gelak tawa di meja-meja para pengunjung. Matamu menyusuri segala sudut ruang dan menemukan satu tempat kosong di pojok. Persis, tempat duduk terakhir kali ketika aku datang sendiri. Tapi kini tidak lagi. kedatanganku bukan lagi untuk secangkir es amerikano tapi kedatanganku untuk menyambut kehadiranmu.

Saat itu, kita saling meminjamkan telinga. Bertukar kabar satu sama lain setelah sekian purnama tidak berjumpa. Kita berbagi tentang apa saja. Pikiran-pikiran acak yang muncul tiba-tiba, menertawakan kegagalan yang pernah kita lalui, politik yang sedang dibicarakan banyak orang, kehilangan terbesar yang baru saja kau lalui dan sebuah rahasia yang kau bagikan denganku.

Terlalu asyik bercengkrama membuat kita tidak sadar bahwa kedai kopi yang tadinya begitu rame kini hanya tinggal kita berdua. Aku menghentikanmu yang sedang berceloteh untuk beranjak dari kedai kopi ini, sebab para barista sepertinya menginginkan kita untuk segera pergi dan mereka bisa menutup kedai karena waktu kerja mereka hampir habis.

Kita bersepakat untuk menghabiskan waktu sedikit lebih lama lagi dengan berjalan menyusuri jalanan kota lama. Di sepanjang jalan, kau melanjutkan ceritamu dan aku menyimak dengan begitu seksama, mencoba mengeja dirimu dengan baik. Aku menyadari bahwa Kamu banyak berubah. Aku bangga melihat kamu tumbuh dengan baik selama ini meski tidak ada aku di dalamnya. Tidak hanya cerdas secara pemikiran tapi juga cerdas secara emosional. Menjadi teduh lagi meneduhkan.

Kamu persis kota lama selepas hujan malam itu. Memberikan getaran yang manis lagi menenangkan. Namun kehadiranmu yang tiba-tiba membuatku kuwalahan menghadapi gemuruhnya dada. Meski begitu Aku ingin bertanya, maukah kau bertukar tatap lagi denganku?

   

 EL 

Rabu, 03 April 2024

Berbahagialah, Sebab Aku Pun Sedang.

 

Ketika di kepalamu masih tertanam kata “mencari kebahagiaan” maka selamat perjalananmu masih panjang untuk sampai muara bahagia.  Bahagia itu persoalan mau dan mampunya kita untuk menikmati setiap perjalanan takdir yang sedang terjadi. Kebahagiaan bukan dicari tapi dikenali, sebab bahagia adalah perasaan itu sendiri dengan penerimaan paling lapang dalam wujud yang banyak rupa.

Bahagia itu amat sangat dekat tapi terkadang pandangan kita saja yang terlampau jauh. Tanpa sadar kita membuat tolak ukur dan berbagai syarat untuk bisa merasa bahagia. Seperti, aku akan bisa bahagia ketika sudah punya tabungan seratus juta misalnya, atau aku akan bisa bahagia ketika sudah memiliki barang mewah. Dan lagi, aku akan bisa bahagia ketika memiliki pekerjaan dengan gaji sekian dan masih banyak hal lainnya yang kita patok untuk membuat kita layak bahagia. 

Lantas, jika patokan dan syarat yang kita buat agar bisa membuat kita layak merasa bahagia itu belum juga tercapai, apa itu berarti kita tidak layak merasa bahagia? Apa itu berarti kita harus terus terukung dalam murung? Padahal bahagia itu sederhana dan kita layak untuk bahagia dengan apapun kondisi kita dan siapa diri kita.

Berbicara bahagia, aku ingat tentang sebuah kelas intensif dari syamelaa series yang aku ikuti selama 30 hari berturut-turut di bulan Februari lalu. Salah satu episodenya bertema “Berbahagialah karena Allah ingin melihatmu bahagia”. Dalam episode itu yang masih aku ingat bahwa setiap orang berhak untuk bahagia dan Allah yang menginginkan kita bahagia. Maka dari itu kita perlu mengusahakan untuk berbahagia dengan bersungguh-sungguh dengan cara yang di ridhoi oleh Allah. bahkan usaha kita untuk merasa bahagia akan menghasilkan pahala dan mendapat ridho Allah, dalam catatan usaha kita dalam aturan Allah.

Sesederhana senyuman yang menenangkan yang kita berikan untuk keluarga, itu akan memberikan kebaikan untuk kehidupan kita dan menghasilkan pahala dari Allah. Lalu apa yang membuatmu masih terkurung dalam murung?

Bukankah kita sangat disayang Allah? bukankah Allah menciptakan kita dengan penciptaan sempurna dan memberikan takdir yang terbaik untuk setiap hambanya? bukankah rejeki kita telah diatur dan Allah tidak pernah ingkar dengan janjinya? lalu kenapa kau begitu khawatir tentang masa depan dan memperumit bahagiamu sendiri dengan membuat tolak ukur atau membandingkan pencapaianmu dengan manusia lain yang hanya membuatmu semakin kesulitan merasa bahagia?

Dan bukankah Allah selalu membersamai kita dalam apapun kondisi kita? lantas kenapa kamu masih merasa sendiri? Tidak sadarkah kau begitu disayangi Allah? kenapa kau terlalu mengejar dan mencari kasih sayang manusia yang jelas ketika kau menautkan kebahagiaanmu pada manusia maka hasilnya sudah bisa ditebak yaitu kecewa.

Bangun kebahagiaanmu sendiri jangan menautkan bahagiamu pada sesuatu yang semu yang hanya menghasilkan kecewa di kemudian hari. kalau kau ingin bunga, maka beli atau tanamlah, bukan malah berharap ada seseorang yang datang memberimu bunga.

Kalaupun ada yang mengomentari, menyentilmu dengan hal-hal yang membuatmu merasa rendah diri, belajarlah untuk mengetahui mana yang ada dalam kendalimu dan mana yang diluar kendalimu. Fokus pada apa-apa yang ada dalam kendalimu dan tenanglah, sebab hanya ketenangan yang mampu membuatmu terlihat anggun nan elegan. Tenanglah, sebab Allah yang paling menyayangimu selalu bersamamu dan Allah tak pernah ingkar dengan janji-janjinyanya.

Bicara bahagia, kabarmu bagaimana? Semoga selalu dalam penjagaan Tuhan dan hatimu selalu penuh dengan apa-apa pemberianNya. Dengan hati yang tulus, berbahagialah, sebab aku pun sedang~

 

Dari perempuan yang jatuh hati kepada TakdirNya 

Tulisan lainnya

Musim Rindu dipelantaran Juni

  Hai Jun~ Ini aku gadis bulan hujan Desember. Senang menyambut hujan dibulan Juni. Setelah mengenal pak Sapardi, aku sempat ingin menjadi...